Tampilkan postingan dengan label komplikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komplikasi. Tampilkan semua postingan

PENGERTIAN BATU GINJAL

Batu ginjal merupakan suatu kondisi terbentuknya material keras yang menyerupai batu di dalam ginjal. Material tersebut berasal dari sisa zat-zat limbah di dalam darah yang dipisahkan ginjal yang kemudian mengendap dan mengkristal seiring waktu.
Endapan batu di dalam ginjal bisa disebabkan oleh makanan atau masalah kesehatan lain yang mendasari. Berdasarkan jenis-jenis batu ginjal, kondisi ini dapat dibagi menjadi empat jenis utama, yaitu batu kalsium, batu asam urat, batu struvit, dan batu sistin.

Gejala batu ginjal

Gejala akibat batu ginjal biasanya tidak akan dirasakan penderitanya jika batu tersebut masih berada di dalam ginjal. Gejala juga tidak akan terasa jika batu ginjal berukuran sangat kecil sehingga bisa keluar dari tubuh melalui ureter dengan mudah. Ureter adalah saluran yang menyambungkan ginjal dengan kandung kemih.
Gejala akibat batu ginjal baru bisa terasa jika batu berukuran lebih besar dari diameter saluran ureter. Batu yang besar akan bergesekan dengan lapisan dinding uterer sehingga menyebabkan iritasi dan bahkan luka. Oleh sebab itu, urin kadang bisa mengandung darah. Selain mengiritasi ureter, batu ginjal juga bisa tersangkut di dalam ureter sehingga urin tidak bisa keluar dan menumpuk di ginjal.
Gejala batu ginjal bisa berupa nyeri pada pinggang, perut bagian bawah, dan selangkangan. Selain rasa nyeri, gejala-gejala batu ginjal lainnya bisa berupa muntah-muntah, menggigil dan demam.

Penderita batu ginjal di Indonesia

Batu ginjal merupakan penyakit yang jumlah penderitanya relatif tinggi di Asia, khususnya di Indonesia. Menurut survei yang dilakukan oleh US Census Bureu pada tahun 2004, jumlah penderita batu ginjal di Indonesia diperkirakan mencapai 876.000 orang. Batu ginjal merupakan kondisi yang cukup umum diderita oleh orang-orang yang berusia 30 hingga 60 tahun. Penyakit ini lebih banyak diderita oleh pria dibandingkan wanita.

Diagnosis batu ginjal

Dalam mendiagnosis batu ginjal, pertama-tama dokter akan mencoba menggali keterangan terlebih dahulu dari pasien seputar gejala-gejala yang dialaminya. Biasanya dokter akan menanyakan apakah pasien pernah menderita batu ginjal sebelumnya, memiliki riwayat keluarga berpenyakit sama, atau apakah belakangan pasien sering mengonsumsi makanan atau suplemen yang bisa memicu terbentuknya batu ginjal.
Setelah keterangan lisan tersebut dikumpulkan, dokter akan melakukan sejumlah tes untuk memastikan diagnosisnya jika diperlukan. Tes tersebut bisa berupa tes urin, tes darah, dan pemeriksaan lewat citra gambar seperti intravenous urogram, CT scan, dan X-ray.

Pengobatan batu ginjal

Pengobatan penyakit batu ginjal dibagi menjadi dua berdasarkan ukuran batu ginjalnya. Jika batu ginjal masih tergolong kecil atau sedang, serta masih dapat melewati saluran kemih tanpa harus dilakukan operasi, dokter biasanya akan menyarankan pasien untuk minum air putih saja sesuai takaran yang disarankan. Dengan adanya aliran cairan secara terus-menerus, diharapkan batu ginjal dapat terdorong keluar dengan sendirinya.
Apabila gejala yang dirasakan oleh pasien cukup mengganggu, biasanya dokter cukup meresepkan obat pereda rasa sakit, misalnya parasetamol, ibuprofen atau kodein.
Penanganan batu ginjal yang dengan operasi sangat jarang dilakukan. Langkah ini biasanya baru akan diterapkan jika batu berukuran lebih besar sehingga menyumbat saluran kemih pasien. Apabila tidak segera ditangani, dikhawatirkan kondisi tersebut dapat menyebabkan masalah kesehatan yang lebih parah seperti pendarahan atau bahkan kerusakan ginjal.

Pencegahan batu ginjal

Cara mencegah batu ginjal sebenarnya cukup sederhana. Anda hanya perlu minum cukup air putih tiap hari dan membatasi konsumsi makanan, minuman, atau suplemen yang mengandung zat-zat yang berpotensi menyebabkan terbentuknya batu ginjal, seperti oksalat, kalsium, dan protein.
Selain dengan minum cukup air dan membatasi asupan zat-zat tertentu, pencegahan batu ginjal juga bisa dilakukan dengan mengonsumsi obat-obatan yang diresepkan oleh dokter. Biasanya langkah ini dianjurkan untuk mencegah kambuh bagi mereka yang sebelumnya pernah menderita batu ginjal.

GEJALA BATU GINJAL

Gejala batu ginjal biasanya tidak akan dirasakan penderitanya jika batu tersebut masih berada di dalam ginjal. Gejala juga tidak akan terasa jika batu ginjal berukuran sangat kecil sehingga dikeluarkan dari tubuh melalui ureter dengan mudah.
Gejala akibat batu ginjal terasa ketika batu berukuran lebih besar keluar dari ginjal menuju ureter. Ureter adalah saluran yang menghubungkan ginjal dengan kandung kemih. Ureter merupakan organ berbentuk tabung dengan jaringan yang sensitif. Ketika batu ginjal yang cukup besar melewati ureter, batu tersebut akan bergesekan dengan dinding ureter sehingga menyebabkan iritasi dan bahkan luka. Ini sebabnya kadang-kadang urin bisa mengandung darah. Jika batu tersebut berukuran cukup besar, batu bisa tersangkut di dalam ureter sehingga menghambat urin untuk mengalir dari ginjal.
Gejala batu ginjal yang paling umum adalah rasa nyeri pada perut dan punggung bagian bawah, pinggang, serta selangkangan. Nyeri tersebut bisa terasa secara konstan atau bisa datang dan pergi.
Gejala lain dari batu ginjal yang muncul adalah meningkatnya frekuensi buang air kecil dan rasa sakit saat kencing. Warna urin pun tampak keruh dan baunya berbeda dari biasanya. Warna keruh seperti kecokelatan atau kemerahan pada urin tersebut bisa karena pendarahan saat batu ginjal melewati saluran kemih.
Selain itu, penderita juga susah beristirahat dengan tenang, mengalami mual, dan muntah-muntah.
Jika batu tersangkut di dalam ureter sehingga urin tertumpuk di dalam ginjal dan menyebabkan infeksi pada ginjal, suhu tubuh penderita akan naik. Infeksi ginjal juga membuat penderita merasa menggigil, mengalami diare, dan merasa sangat lemas.

PENYEBAB BATU GINJAL

Ginjal membersihkan darah tiap hari dengan menyaring zat-zat limbah yang terdapat di dalamnya untuk selanjutnya dibuang dalam bentuk urin. Terkadang kadar zat-zat tersebut terlalu tinggi sehingga tidak dapat sepenuhnya dibuang oleh tubuh dan mengendap di dalam ginjal. Endapan tersebut lama-kelamaan dapat mengeras atau mengkristal, sehingga terbentuklah apa yang dinamakan batu ginjal.
Endapan batu di dalam ginjal bisa disebabkan oleh makanan atau masalah kesehatan lain yang mendasari. Berdasarkan faktor-faktor tersebut, batu ginjal dapat dibagi menjadi empat jenis utama, yaitu batu kalsium, batu asam urat, batu struvit, dan batu sistin.
Batu kalsium disebabkan oleh tingginya kadar kalsium di dalam urin. Jenis batu ginjal ini merupakan yang paling umum terjadi. Tingginya kadar kalsium bisa berasal dari makanan yang mengandung oksalat maupun vitamin D, misalnya kacang kedelai, hati sapi, cokelat, teh, kopi, dan tiram. Tingginya kalsium juga bisa disebabkan kelenjar paratiroid yang terlalu aktif. Hormon yang diproduksi kelenjar ini berfungsi sebagai pengatur jumlah kalsium di dalam darah.
Yang kedua adalah batu asam urat. Batu ini terbentuk akibat tingginya kadar asam urat di dalam urin yang disebabkan oleh makanan berkadar purin tinggi. Contoh makanan yang memicu tingginya asam urat adalah kerang-kerangan, daging kambing, dan jeroan. Selain batu ginjal, batu asam urat juga bisa terbentuk dan menyebabkan rematik asam urat atau gout.
Yang ketiga adalah batu struvit. Ini merupakan jenis batu ginjal yang dapat terbentuk dan membesar secara cepat. Penyebab utama terbentuknya batu struvit adalah infeksi saluran kemih yang tidak diobati dan dibiarkan saja. Jenis batu ini lebih sering ditemukan pada pasien wanita dibandingkan pasien laki-laki.
Yang terakhir adalah batu sistin. Batu ginjal ini terbentuk akibat terlalu banyaknya asam amino sistin yang dikeluarkan oleh ginjal. Batu sistin merupakan jenis batu ginjal yang sangat jarang ditemukan. Kondisi ini disebabkan oleh penyakit yang dikenal sebagai sistinuria.

DIAGNOSIS BATU GINJAL

Dalam mendiagnosis batu ginjal, pertama-tama dokter akan mencoba menggali keterangan terlebih dahulu dari pasien seputar gejala-gejala yang dialaminya. Biasanya dokter akan menanyakan apakah pasien pernah menderita batu ginjal sebelumnya, memiliki riwayat keluarga berpenyakit sama, atau apakah belakangan pasien sering mengonsumsi makanan atau suplemen yang bisa memicu terbentuknya batu ginjal.
Setelah keterangan lisan tersebut dikumpulkan, tes akan dilakukan untuk memastikan diagnosisnya. Tes tersebut bisa berupa tes urin, tes darah, dan pemeriksaan lewat citra gambar seperti intravenous urogram, CT scan, atau X-ray.
Pemeriksaan urin dilakukan untuk mengetahui keberadaan infeksi pada saluran kemihyang terkait dengan batu ginjal. Selain itu, jika sampel urin mengandung serpihan batu ginjal, tes ini dapat membantu dokter dalam mengenali jenis batu ginjal yang terbentuk.
Sedangkan untuk pemeriksaan darah, metode ini dilakukan untuk membantu dokter mengetahui kadar zat yang berpotensi menyebabkan batu ginjal, misalnya seperti kadar kalsium atau asam urat di dalam darah. Selain itu, tes darah juga dilakukan untuk memeriksa apakah ginjal pasien masih berfungsi dengan baik.
Yang terakhir adalah pemeriksaan melalui citra gambar dengan X-ray, CT scan atauintravenous urogram (IVU). Pemeriksaan yang hanya bisa dilakukan di rumah sakit ini sebenarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk memastikan keberadaan dan menentukan posisi batu ginjal secara tepat dan akurat.
Analisis yang tepat akan sangat membantu dokter dalam menentukan penanganan atau obat-obatan yang sesuai dengan kondisi penderita batu ginjal.

KOMPLIKASI BATU GINJAL

Kasus komplikasi yang muncul akibat batu ginjal jarang terjadi. Meskipun begitu kondisi ini jangan dianggap enteng. Terhalangnya laju pembuangan urin bukan hanya menimbulkan rasa sakit, namun dikhawatirkan dapat mengarah pada kondisi yang lebih serius seperti infeksi atau bahkan gagal ginjal jika tidak ditangani dengan benar. Selain potensi berdampak pada ginjal, komplikasi yang paling sering terjadi adalah kecenderungan batu ginjal untuk kambuh. Jika Anda pernah menderita batu ginjal sebelumnya, maka Anda berpeluang untuk kembali terkena kondisi yang sama. Berikut adalah faktor pemicu terbentuknya batu ginjal berulang kali:
  • Terlalu banyak mengonsumsi makanan yang mengandung protein dan terlalu sedikit mengonsumsi serat.
  • Hanya memiliki satu ginjal yang masih berfungsi.
  • Pernah mengalami beberapa infeksi yang berhubungan dengan ginjal atau sistem saluran kemih sebelumnya.
  • Memiliki riwayat keluarga berpenyakit batu ginjal.
  • Pernah menjalani operasi pada sistem pencernaan.
  • Rutin mengonsumsi suplemen yang mengandung vitamin D dan kalsium.
  • Mengonsumsi obat-obatan seperti aspirin, antibiotik tertentu, antasida, diuretik, obat anti epilepsi, dan obat-obatan untuk HIV.
Prosedur pengangkatan batu ginjal berukuran besar, terutama dengan metode ureterorenoskopi juga berpotensi menimbulkan komplikasi seperti pendarahan, cedera pada saluran ureter, terhambatnya ureter akibat serpihan batu ginjal dan infeksi darah atau sepsis.

PENGOBATAN BATU GINJAL

Pengobatan penyakit batu ginjal dibagi menjadi dua berdasarkan ukurannya. Jika masih tergolong kecil, batu masih dapat melalui saluran kemih tanpa harus dilakukan operasi untuk mengeluarkannya. Dokter biasanya akan menyarankan pasien melakukan langkah pengobatan selayaknya pencegahan, yaitu dengan minum cukup air putih tiap hari. Dengan adanya aliran cairan secara terus-menerus, diharapkan batu ginjal yang kecil dapat terdorong keluar dengan sendirinya.
Jika air putih saja dianggap belum cukup, dokter kemungkinan akan meresepkan obat untuk membantu melancarkan pengeluaran batu ginjal, misalnya tamsulosin.
Apabila gejala yang dirasakan pasien sudah cukup mengganggu, biasanya dokter cukup meresepkan obat pereda rasa sakit, seperti parasetamol, ibuprofen dan kodein. Selain pereda sakit, dokter juga akan memberikan obat untuk menangani gejala mual dan muntah-muntah. Obat  penghambat alfa juga tersedia untuk membuat dinding ureter menjadi lebih rileks. Tujuannya agar batu ginjal dapat melewatinya dengan lebih mudah.
Penanganan batu ginjal dengan operasilebih jarang dilakukan. Langkah ini baru akan diterapkan jika batu tersebut berukuran besar sehingga menyumbat saluran kemih pasien. Apabila tidak segera ditangani, dikhawatirkan kondisi tersebut dapat menyebabkan masalah kesehatan yang lebih parah, seperti pendarahan atau bahkan kerusakan ginjal. Prosedur-prosedur untuk menangani batu ginjal yang besar adalah:
  • Ureterorenoskopi, yaitu prosedur pengangkatan batu ginjal dengan menggunakan sebuah alat yang disebut ureteroskop yang dimasukkan ke ureter melalui uretra dan kandung kemih. Uretra adalah saluran terakhir untuk keluarnya urin dari kandung kemih ke luar tubuh. Alat yang menyerupai selang kecil dan dilengkapi kamera ini dapat melihat letak batu ginjal. Setelah letaknya diketahui, batu akan dihancurkan. Ureterorenoskopi biasanya dilakukan untuk menangani batu yang terjebak di dalam ureter.
  • Bedah terbuka. Di zaman modern seperti sekarang, prosedur ini sebenarnya sudah tergolong jarang dan hanya dilakukan untuk mengangkat batu ginjal yang berukuran sangat besar. Sesuai dengan namanya, bedah terbuka dilakukan dengan cara membuat sebuah sayatan pada permukaan kulit dekat dengan ginjal dan ureter yang berfungsi sebagai akses bagi dokter bedah untuk mengangkat batu ginjal.
  • Extracorporeal shock wave lithotripsy atau disingkat ESWL, yaitu prosedur penghancuran batu ginjal dengan menggunakan gelombang energi. Batu dihancurkan agar serpihan-serpihannya dapat keluar dengan mudah.
  • Percutaneous nephrolithotomy atau disingkat PCNL, yaitu prosedur penghancuran batu ginjal. Sayatan kecil dibuat di atas permukaan kulit dekat ginjal sehingga alat yang disebut nephroscope bisa masuk untuk memecahkan dan mengangkat serpihan batu ginjal.

PENGOBATAN WASIR (HEMOROID) DENGAN OBAT HERBAL BIOJAVA PROPOLIS

DOSIS DAN PENGGUNAAN BIOJAVA PROPOLIS


Dosis minimal yang efektif
  • 10 tetes sehari dan dibagi menjadi tiga kali minum dan pengobatan dilakukan selama 20–30 hari. Sangat baik dilakukan saat perut dalam keadaan kosong
Kasus membahayakan seperti tetanus dan demam berdarah :
  • 60 tetes dalam sehari dan diberikan selama 1 minggu

PENGERTIAN DIABETES


Diabetes (diabetes melitus) adalah penyakit jangka panjang yang ditandai dengan kadar gula darah di atas normal. Jenis utama penyakit ini adalah diabetes tipe 1 dan tipe 2.

Penderita Diabetes di Indonesia

Indonesia termasuk 10 negara terbesar penderita diabetes. Pada tahun 2013, penderita diabetes di Indonesia diperkirakan berjumlah sekitar 8,5 juta orang dengan rentang usia 20-79 tahun (dikutip dari Federasi Diabetes Internasional). Tetapi kurang dari 50% dari mereka yang menyadarinya.

Apa Saja Gejala Diabetes?

Sangatlah penting bagi semua orang untuk mengetahui gejala awal diabetes. Tidak hanya bagi Anda yang berisiko tinggi, tetapi juga bagi Anda yang merasa sehat-sehat saja dan tidak memiliki riwayat atau potensi mengidap diabetes.
Diabetes tipe 1 dapat berkembang dengan cepat dalam beberapa minggu, bahkan beberapa hari saja. Sedangkan banyak penderita diabetes tipe 2 yang tidak menyadari bahwa mereka telah mengidap diabetes selama bertahun-tahun karena gejalanya cenderung tidak spesifik. Beberapa gejala diabetes tipe 1 dan tipe 2 meliputi:
  • Sering merasa haus.
  • Sering buang air kecil, terutama di malam hari.
  • Rasa lapar yang ekstrem.
  • Turunnya berat badan tanpa sebab yang jelas.
  • Terdapat keton dalam air seni. Keton adalah produk sampingan dari metabolisme otot dan lemak yang terjadi ketika produksi insulin tidak cukup.
  • Kelelahan.
  • Pandangan yang kabur.
  • Berkurangnya massa otot.
  • Luka yang lama sembuh.
  • Tekanan darah yang tinggi.
  • Sering mengalami infeksi, misalnya pada gusi, kulit, vagina, atau saluran kemih.

Pengaruh Hormon Insulin dan Diabetes

Semua sel dalam tubuh manusia membutuhkan zat gula agar dapat bekerja dengan normal. Kadar zat gula dalam darah biasanya dikendalikan oleh hormon insulin yang diproduksi oleh pankreas, yaitu organ yang terletak di belakang lambung.
Zat gula dapat masuk ke dalam sel-sel tubuh dengan bantuan hormon insulin yang memindahkan glukosa saat makanan dicerna dan masuk ke aliran darah. Glukosa itulah yang kemudian diolah untuk menghasilkan energi di dalam tubuh.
Tetapi organ pankreas di dalam tubuh penderita diabetes tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai kebutuhan tubuh. Tanpa insulin, sel-sel tubuh tidak dapat menyerap dan mengolah glukosa menjadi energi.

Sekilas Tentang Diabetes Tipe 1

Penderita jenis diabetes ini sangat bergantung kepada insulin karena sistem kekebalan tubuh penderitanya akan menyerang dan menghancurkan sel-sel pankreas yang memproduksi insulin. Hal ini memicu peningkatan kadar glukosa sehingga terjadi kerusakan pada organ-organ tubuh.
Penderita diabetes tipe 1 biasanya adalah orang-orang yang berusia di bawah 40 tahun dan umumnya muncul pada masa remaja atau anak-anak. Maka dari itu diabetes jenis ini juga disebut sebagai diabetes anak-anak.
Diabetes tipe 1 jarang terjadi jika dibandingkan dengan diabetes tipe 2. Hanya sekitar dua orang yang menderita diabetes tipe 1 di antara seluruh 10 penderita diabetes.
Selain harus menerima suntikan insulin tiap hari, penderita diabetes tipe 1 juga disarankan untuk menjaga kadar glukosa dalam darah agar tetap seimbang. Misalnya dengan pola makan sehat dan tes darah secara rutin.

Sekilas Tentang Diabetes Tipe 2

Ini adalah jenis diabetes yang lebih umum terjadi. Sekitar 80% pengidap diabetes di Indonesia menderita diabetes tipe ini.
Diabetes tipe 2 disebabkan oleh kurangnya produksi insulin di dalam tubuh atau sel-sel tubuh yang menjadi kurang sensitif terhadap insulin. Kekurangpekaan sel-sel tubuh ini dikenal dengan istilah resistansi terhadap insulin.
Gejala pada penderita diabetes tipe ini mungkin dapat dikendalikan dengan pola makan sehat dan memantau kadar glukosa dalam darah. Tetapi berwaspadalah karena penyakit ini akan terus berkembang dalam tubuh dan lambat laun Anda akan membutuhkan pengobatan (biasanya dalam bentuk tablet).
Diabetes tipe 2 sering dihubungkan dengan obesitas. Makin tinggi indeks massa tubuh maka risiko diabetes tipe ini juga akan makin tinggi. Diabetes akibat obesitas umumnya menyerang para manula.

Risiko Diabetes Kehamilan

Diabetes juga kerap menyerang ibu-ibu hamil karena ada sebagian wanita yang memiliki kadar glukosa dalam darah yang sangat tinggi selama masa kehamilan sehingga tubuh mereka tidak dapat memproduksi cukup insulin untuk menyerapnya. Diabetes yang dikenal sebagai diabetes kehamilan ini dapat terjadi pada sekitar dua orang di antara 100 wanita yang hamil.
Penderita diabetes tipe 1 yang hamil juga akan memiliki risiko tinggi karena dapat berdampak pada ibu serta janin. Karena itulah sangat penting bagi penderita diabetes yang sedang hamil untuk menjaga keseimbangan kadar glukosa dalam darah.
Ibu-ibu yang sedang hamil sebaiknya lebih cermat saat memantau kadar glukosa dalam darah pada trimester kedua (minggu 14-26) karena diabetes kehamilan umumnya berkembang selama masa ini dan akan hilang setelah Anda melahirkan. Tetapi risiko terkena diabetes tipe 2 bagi wanita yang pernah mengalami diabetes kehamilan adalah tiga kali lebih tinggi dibandingkan populasi umum



PENGOBATAN DIABETES DENGAN OBAT HERBAL BIOJAVA PROPOLIS

DOSIS DAN PENGGUNAAN BIOJAVA PROPOLIS


Dosis minimal yang efektif
  • 10 tetes sehari dan dibagi menjadi tiga kali minum dan pengobatan dilakukan selama 20–30 hari. Sangat baik dilakukan saat perut dalam keadaan kosong
Kasus membahayakan seperti tetanus dan demam berdarah :
  • 60 tetes dalam sehari dan diberikan selama 1 minggu
Hati memiliki ratusan fungsi sehingga menjadi salah satu organ terpenting dalam tubuh manusia. Fungsi hati di antaranya adalah memproduksi cairan empedu yang dapat membantu pencernaan lemak, menyimpan karbohidrat, memproduksi senyawa yang penting dalam pembekuan darah, serta menghilangkan racun dari tubuh.
Manusia hanya memiliki satu buah hati. Organ ini memiliki daya tahan yang sangat tangguh. Hati bahkan tetap bekerja meski mengalami kerusakan dan mampu terus beregenerasi (memperbaiki diri) selama tidak mengalami kerusakan yang benar-benar parah.
Salah satu infeksi serius yang dapat menyerang hati adalah hepatitis B yang disebabkan oleh virus. Beberapa gejala hepatitis B antara lain:
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Mual dan muntah.
  • Sakit kuning (dilihat dari kulit dan bagian putih mata yang menguning).
  • Gejala yang mirip pilek, misalnya lelah, nyeri pada tubuh, dan sakit kepala.
Tetapi gejala-gejala tersebut tidak langsung terasa dan bahkan ada yang sama sekali tidak muncul. Karena itulah banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi. Inkubasi adalah jarak waktu antara virus pertama masuk ke dalam tubuh hingga munculnya gejala pertama infeksi tersebut. Masa inkubasi hepatitis B biasanya berkisar antara 1-5 bulan sejak terjadi pajanan terhadap virus.

Penderita Hepatitis B di Indonesia

Hepatitis B merupakan masalah kesehatan dunia, termasuk Indonesia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa hepatitis B merupakan penyebab lebih dari 780.000 kematian tiap tahun di dunia.
Di Indonesia sendiri, hasil Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2007 menunjukkan bahwa prevalensi hepatitis B sebesar 9,4%. Hal ini berarti satu dari 10 penduduk Indonesia terinfeksi Hepatitis B. Sayangnya, hanya satu dari lima penderita hepatitis B di Indonesia yang sadar bahwa mereka mengidap penyakit ini.

Cara Penularan Hepatitis B

Hepatitis B dapat menular melalui darah dan cairan tubuh, misalnya sperma dan cairan vagina. Virus penyakit ini jauh lebih mudah ditularkan dibandingkan HIV. Beberapa cara penularannya adalah:
  • Kontak seksual, misalnya berganti-ganti pasangan dan berhubungan seks tanpa alat pengaman.
  • Berbagi jarum suntik. Misalnya menggunakan alat suntik yang sudah terkontaminasi darah penderita hepatitis B.
  • Kontak dengan jarum suntik secara tidak disengaja. Misalnya petugas kesehatan (paramedis) yang sering berurusan dengan darah manusia.
  • Ibu dan bayi. Ibu yang sedang hamil dapat menularkan penyakit ini pada bayinya saat persalinan.

Diagnosis pada Hepatitis B

Diagnosis hepatitis B dilakukan melalui pemeriksaan darah. Yang perlu diperhatikan adalah pendeteksian HBsAg (hepatitis B surface antigen). HbsAg adalah lapisan luar virus hepatitis B yang memicu reaksi dari sistem kekebalan tubuh Anda.
Munculnya hasil positif menunjukkan bahwa hati Anda melepaskan protein hepatitis B ke dalam darah. Hal ini mengindikasikan adanya infeksi.
Selain tes HBsAg, dokter mungkin akan menganjurkan Anda untuk menjalani pemeriksaan yang lebih spesifik, yaitu evaluasi fungsi hati. Pemeriksaan ini juga dilakukan melalui tes darah untuk mengetahui adanya kerusakan hati atau tidak.

Hepatitis B Akut dan Kronis

Infeksi hepatitis B dapat terjadi dalam waktu singkat (akut) atau jangka panjang (kronis).
Virus hepatitis B umumnya tinggal dalam tubuh selama kira-kira 30-90 hari. Inilah yang dikenal sebagai hepatitis B akut. Infeksi akut ini umumnya dialami orang dewasa. Jika mengalami hepatitis B akut, sistem kekebalan tubuh Anda biasanya dapat melenyapkan virus dari tubuh dan Anda akan sembuh dalam beberapa bulan.
Sedangkan hepatitis B kronis terjadi saat virus tinggal dalam tubuh selama lebih dari enam bulan. Jenis hepatitis B ini lebih sering terjadi pada bayi dan anak-anak. Anak-anak yang terinfeksi virus pada saat lahir berisiko empat sampai lima kali lebih besar untuk menderita hepatitis B kronis dibanding anak-anak yang terinfeksi pada masa balita. Sementara untuk orang dewasa, 20% dari mereka yang terpapar virus ini akan berujung pada diagnosis hepatitis B kronis.
Penderita hepatitis B kronis bisa menularkan virus meski tanpa menunjukkan gejala apa pun.
Sirosis adalah tahap terakhir dari hepatitis B kronis. Sirosis adalah kondisi organ hati yang telah mengalami kerusakan berkelanjutan dan akhirnya membentuk jaringan luka atau parut. Jaringan ini berbeda dari jaringan hati yang sehat. Dalam kondisi siroris, sel-sel hati telah berubah dan jaringannya telah mengeras sehingga fungsi hati pun menurun secara drastis. Satu dari lima penderita hepatitis B mengalami sirosis. Komplikasi ini membutuhkan sekitar 8-20 tahun untuk berkembang. Diperkirakan sekitar 10 persen penderita sirosis akhirnya mengalami kanker hati.

Langkah Pengobatan Hepatitis B

Tidak ada langkah khusus dalam pengobatan hepatitis B. Tujuan pengobatannya adalah untuk mengurangi gejala dengan obat pereda sakit serta menjaga kenyamanan sehari-hari si penderita dan keseimbangan gizinya.
Sementara pengobatan untuk hepatitis B kronis tergantung pada tingkat keparahan infeksi pada hati. Langkah penanganan penyakit ini menggunakan obat-obatan yang berfungsi untuk:
  • Menghambat produksi virus.
  • Mencegah kerusakan pada hati.

Langkah Pencegahan Penyebaran Hepatitis B

Langkah pengobatan memang dapat menghambat penyebaran hepatitis B kronis dan mencegah komplikasi, tetapi tidak bisa menyembuhkan infeksi. Penderita hepatitis B kronis tetap dapat menularkannya pada orang lain.

Vaksin dan Langkah Pencegahan Terpapar Virus Hepatitis B

Langkah efektif dalam pencegahan hepatitis B adalah dengan vaksin. Di Indonesia sendiri, vaksin hepatitis B termasuk vaksin wajib dalam imunisasi. Proses pemberian vaksin dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu saat anak lahir, saat anak berusia satu bulan, dan saat anak berusia 3-6 bulan. Tetapi orang dewasa dari segala umur dianjurkan untuk menerima vaksin hepatitis B.
Pemberian vaksin ini juga dianjurkan untuk mereka yang berisiko tinggi tertular hepatitis B, seperti:
  • Orang yang memiliki lebih dari satu pasangan seksual.
  • Orang yang menggunakan obat suntik atau berhubungan seks dengan pengguna obat suntik.
  • Petugas kesehatan (paramedis) yang berisiko terpapar virus hepatitis B.
    Orang yang tinggal serumah dengan penderita hepatitis B.
  • Penderita penyakit hati kronis.
  • Penderita penyakit ginjal.
Pemeriksaan hepatitis B juga diterapkan bagi ibu hamil. Jika sang ibu mengidap penyakit ini, bayinya dapat menerima vaksin pada saat lahir (12 jam setelah persalinan) untuk mencegah penularan dari ibu ke bayi.
Langkah lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terkena hepatitis B di antaranya adalah:
  • Berhenti atau jangan menggunakan obat-obatan terlarang.
  • Hindari berbagi penggunaan barang seperti sikat gigi, anting-anting, serta alat cukur.
  • Waspadalah saat ingin menindik dan menato tubuh.
  • Jangan berhubungan seks tanpa alat pengaman kecuali Anda yakin pasangan Anda tidak memiliki hepatitis B atau penyakit kelamin menular lainnya.

Bagi Penderita Hepatitis B

Penderita hepatitis B dewasa umumnya sanggup mengendalikan virusnya. Mereka dapat kembali sehat dalam waktu beberapa bulan meski mengalami gejala yang parah.
Kerusakan hati adalah risiko yang dimiliki oleh penderita hepatitis B kronis. Sebagian besar dari mereka mengalami kerusakan hati yang sangat kecil. Tetapi ada juga penderita hepatitis B kronis yang akhirnya menderita sirosis dan terkadang kanker hati.


Karena itu, vaksinasi sangat penting sebagai langkah pencegahan. Terutama jika Anda termasuk dalam salah satu kategori orang yang berisiko tinggi terkena hepatitis B.

GEJALA HEPATITIS B

Gejala hepatitis B sering kali tidak langsung terasa dan bahkan ada yang sama sekali tidak muncul selama sistem kekebalan tubuh si penderita berjuang melawan virus. Karena itulah banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi. Penularan tetap dapat terjadi selama virus masih ada di dalam tubuh penderita.
Jika ada gejala pun, masa inkubasi hepatitis B berkisar antara 1-5 bulan sejak terjadi pajanan terhadap virus. Inkubasi adalah jarak waktu antara masuknya virus ke dalam tubuh hingga munculnya gejala. Gejala tersebut biasanya akan hilang dalam 30-90 hari.
Yang termasuk dalam gejala hepatitis B antara lain:
  • Kehilangan nafsu makan
  • Mual dan muntah.
  • Penurunan berat badan.
  • Gejala yang menyerupai flu seperti lelah, nyeri pada tubuh, sakit kepala, dan demam tinggi (sekitar 38ºC atau lebih).
  • Nyeri perut.
  • Lemas dan lelah.
  • Sakit kuning (kulit dan bagian putih mata yang menguning).
Penyebab munculnya sakit kuning adalah bilirubin (senyawa hasil limbah sel darah merah) yang tidak dapat dilenyapkan oleh hati yang mengalami kerusakan. Senyawa ini juga dapat mengubah warna urine menjadi kuning pekat dan warna tinja menjadi pucat.

Hepatitis B Jangka Panjang (Kronis)

Hepatitis B kronis terjadi saat virus tinggal dalam tubuh selama lebih dari enam bulan. Gejalanya cenderung lebih ringan dan tidak konstan. Sebagian besar penderita penyakit ini tidak mengalami gejala yang signifikan.
Tetapi penderita harus tetap berhati-hati karena penderita hepatitis B kronis, terutama yang tidak menjalani pengobatan, dapat mengalami komplikasi serius. Misalnya sirosis atau inflamasi hati.

Konsultasi Kepada Dokter

Jika ada gejala-gejala tidak biasa yang berlangsung selama berhari-hari atau Anda merasa telah terpapar virus hepatitis B, periksakanlah diri Anda ke dokter.
Infeksi hepatitis B dapat dicegah dengan pengobatan. Tetapi perlu diingat bahwa pengobatan ini hanya efektif jika dilakukan dalam 48 jam setelah terjadi pajanan. Meski demikian, proses ini juga terkadang bisa efektif sampai satu minggu.

PENYEBAB HEPATITIS B

Hepatitis B termasuk penyakit yang sangat mudah menular. Virus ini jauh lebih mudah ditularkan dibandingkan HIV. Indonesia merupakan negara dengan tingkat penderita hepatitis B yang tergolong tinggi.
Penularan hepatitis B dapat melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh lain penderita. Risiko Anda akan makin tinggi jika Anda tidak memiliki kekebalan tubuh terhadap penyakit ini. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya sudah terinfeksi.

Pajanan Darah yang Sudah Terinfeksi Hepatitis B

Risiko terkena hepatitis B akan meningkat jika Anda:
  • Berbagi sikat gigi, alat cukur, dan handuk yang sudah terkontaminasi dengan darah yang terinfeksi.
  • Menggunakan obat-obatan terlarang dan berbagi jarum suntik serta peralatan lainnya (misalnya, sendok atau bong).
  • Berhubungan seks dengan pengguna obat-obatan terlarang yang memakai dan berbagi jarum suntik.
  • Memiliki luka terbuka dan terjadi kontak dengan darah yang terinfeksi.
  • Bekerja dan berurusan dengan darah. Paramedis dan staf laboratorium memiliki risiko lebih tinggi terhadap ketidaksengajaan tertusuk jarum suntik bekas.
  • Menjalani transfusi darah di klinik atau rumah sakit yang tidak memeriksa darah untuk hepatitis B. Semua darah yang akan digunakan dalam transfusi harus dites untuk berbagai penyakit, termasuk hepatitis B.
  • Menjalani pengobatan atau perawatan gigi di klinik atau rumah sakit dengan peralatan yang tidak steril.
  • Menindik atau menato tubuh di tempat yang peralatannya tidak steril.

Pajanan Cairan Tubuh yang terinfeksi Hepatitis B

Cairan tubuh merupakan salah satu perantara utama dalam penularan hepatitis B. Risiko Anda untuk terkena penyakit ini akan meningkat jika Anda:
  • Melakukan hubungan seks tanpa kondom (termasuk seks oral dan seks anal), terutama jika pasangan Anda sudah terinfeksi.
  • Memiliki pasangan seksual lebih dari satu orang.
Pekerja seks komersial (wanita atau pria) juga berisiko tinggi tertular hepatitis B.

Penularan Dari Ibu Kepada Bayi

Jika ibu hamil terkena hepatitis B, bayinya dapat tertular selama masa kehamilan atau pada saat lahir. Para ibu hamil dianjurkan untuk menjalani tes darah sehingga hepatitis B dapat segera terdeteksi.
Penularan hepatitis B dari ibu kepada bayinya masih dapat dicegah. Caranya adalah dengan memberi vaksin hepatitis B pada sang bayi saat dilahirkan (sebaiknya dalam waktu 12 jam). Pemberian ASI juga boleh dilakukan jika sang bayi sudah menerima vaksin pada saat lahir.

KOMPLIKASI HEPATITIS B

Satu dari tiga penderita hepatitis B kronis yang tidak menjalani pengobatan dapat mengalami komplikasi penyakit hati yang serius.

Hepatitis B dan Komplikasi Sirosis

Sirosis adalah pembentukan jaringan parut pada hati. Jaringan parut adalah jaringan yang terbentuk setelah sel-sel hati yang awalnya normal, mengalami luka atau radang yang berkelanjutan. Dalam hati yang terkena sirosis, sel-selnya telah mengalami perubahan sehingga tidak lagi dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Perubahan ini terjadi perlahan-lahan dalam waktu bertahun-tahun.
Penyakit ini menyerang sekitar 20 persen penderita hepatitis B kronis. Gejala sirosis biasanya tidak terdeteksi dan sering tidak disadari penderitanya sampai terjadi kerusakan yang parah pada hati. Sirosis yang parah dapat memicu gejala-gejala seperti turunnya berat badan, mual, gampang lelah, gatal-gatal pada kulit dan pembengkakan pada perut serta pergelangan kaki.
Konsumsi minuman keras sebaiknya dihindari karena dapat mempercepat dan memperburuk sirosis.
Perkembangan komplikasi ini dapat dihambat dengan langkah pengobatan tertentu, misalnya dengan obat antivirus. Tetapi ada sebagian penderita yang terpaksa menjalani transplantasi hati.

Hepatitis B dan Komplikasi Kanker Hati

Hepatitis B kronis yang akan berkembang menjadi kanker hati diperkirakan mencapai 10 persen. Gejala pada komplikasi ini di antaranya adalah mual, muntah, sakit perut, penurunan berat badan, serta sakit kuning (kulit dan bagian putih mata yang menguning).

Hepatitis B dan Komplikasi Hepatitis B Fulminan

Hepatitis B fulminan terjadi saat sistem kekebalan tubuh menjadi keliru dan mulai menyerang hati hingga menyebabkan kerusakan yang parah. Beberapa gejala yang mengindikasikan kondisi tersebut adalah penderita menjadi linglung atau bingung, perut yang membengkak, dan sakit kuning.
Hepatitis B fulminan memang jarang terjadi dan umumnya disebabkan oleh hepatitis B akut. Tetapi komplikasi ini juga dapat terjadi pada penderita hepatitis B kronis dewasa.
Hepatitis B fulminan membutuhkan perawatan medis darurat. Jumlah penderita hepatitis B fulminan yang meninggal dunia diperkirakan mencapai 70 persen.

PENGOBATAN HEPATITIS B

Proses pengobatan hepatitis B biasanya dilakukan oleh dokter spesialis hati atau lebih dikenal dengan istilah dokter ahli hepatologi.

Langkah Pengobatan Untuk Hepatitis B Akut

Infeksi akut ini umumnya dialami penderita dewasa. Penderita hepatitis B akut biasanya dapat terbebas dari gejala dan pulih dalam beberapa bulan tanpa terkena hepatitis B kronis.
Tidak ada langkah khusus untuk mengatasi hepatitis B akut. Penyakit ini dapat sembuh tanpa harus menjalani penanganan di rumah sakit. Tetapi Anda sebaiknya berkonsultasi kepada dokter jika mengalami gejala yang parah.
Tujuan pengobatan jenis hepatitis B ini adalah untuk mengurangi gejala dengan obat pereda sakit, misalnya parasetamol dan obat anti-mual seperti metoclopramide. Dokter mungkin akan memberikan kodein jika rasa sakit yang Anda alami lebih parah.
Penderita hepatitis B yang merasa sehat belum tentu sudah terbebas dari virus tersebut. Mereka dianjurkan untuk menjalani tes darah dan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Proses ini bertujuan untuk memastikan Anda benar-benar terbebas dari virus dan tidak menderita hepatitis B kronis.

Langkah Pengobatan Untuk Hepatitis B Kronis

Penderita hepatitis B kronis umumnya tidak merasakan gejala apa pun untuk waktu yang lama. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi. Jika telah didiagnosis positif menderita penyakit ini, penderita pada umumnya membutuhkan obat-obatan untuk jangka panjang (terkadang bertahun-tahun) guna mencegah kerusakan hati.
Dengan berkembangnya dunia kedokteran, obat-obatan yang efektif untuk menekan aktivitas virus hepatitis B juga sudah tersedia. Obat-obatan ini dapat menghambat proses kerusakan pada hati sehingga tubuh sempat memperbaikinya. Tetapi perlu diingat bahwa kemungkinan obat-obatan ini untuk sepenuhnya melenyapkan virus sangat tipis.
Kondisi hati penderita hepatitis B kronis juga harus dipantau secara rutin. Pemeriksaan ini akan menunjukkan apakah virus sudah merusak hati dan seberapa jauh kerusakannya. Proses ini biasanya meliputi:
  • Tes darah.
  • USG.
  • FibroScan (alat untuk mengukur tingkat pembentukan jaringan luka dan pengerasan jaringan hati).
  • Biopsi hati (proses ini jarang digunakan).
Ada sebagian penderita hepatitis B yang memiliki kekebalan tubuh yang dapat menekan aktivitas virus sehingga tidak merusak hati. Karena itu, jenis obat yang akan dikonsumsi tergantung pada ada atau tidaknya proses kerusakan hati yang sedang berlangsung.
Obat yang biasanya dianjurkan dokter untuk penderita dengan hati yang masih berfungsi baik adalah peginterferon alfa-2a.
Jika pemeriksaan mengindikasikan bahwa hati Anda mengalami kerusakan, dokter akan memberikan obat lain. Adanya kerusakan ini menunjukkan bahwa peginterferon alfa-2akurang efektif atau tidak cocok untuk Anda. Alternatif lain yang mungkin ditawarkan oleh dokter adalah obat antivirus (biasanya tenofovir atau entecavir).
Keefektifan pengobatan berbeda-beda untuk tiap orang. Dalam beberapa kasus, dampak pengobatan dapat sangat efektif sehingga sistem kekebalan tubuh penderita dapat mengendalikan hepatitis B. Jika berhasil, dokter pada akhirnya akan menganjurkan Anda untuk menghentikan konsumsi semua obat.
Obat pasti memiliki efek samping, maka penting bagi penderita untuk mematuhi seluruh cara pemakaian, mulai dari dosis, cara memulai dan menghentikan konsumsi obat, serta kapan sebaiknya mengkonsumsi obat.
Meski efek sampingnya bisa terasa mengganggu, penderita dianjurkan untuk terus meminumnya. Penghentian konsumsi obat dapat menimbulkan reaksi resistansi obat (ketahanan virus terhadap obat) serta kerusakan hati. Konsultasikanlah dengan dokter sebelum Anda berhenti meminum obat.
Penting bagi Anda juga untuk mengenali efek samping apa sajakah yang mungkin terjadi akibat obat-obat tersebut. Akan sangat berguna bagi penderita untuk mengerti cara kerja obat dan efek samping yang mungkin ditimbulkannya, mulai dari yang ringan hingga yang berbahaya. Ini supaya efek samping ringan dapat diantisipasi dan ketika efek samping yang berbahaya terjadi, penderita dan anggota keluarganya dapat mengenalinya dan segera bertindak.


DOSIS DAN PENGGUNAAN BIOJAVA PROPOLIS


Dosis minimal yang efektif
  • 10 tetes sehari dan dibagi menjadi tiga kali minum dan pengobatan dilakukan selama 20–30 hari. Sangat baik dilakukan saat perut dalam keadaan kosong
Kasus membahayakan seperti tetanus dan demam berdarah :
  • 60 tetes dalam sehari dan diberikan selama 1 minggu